Bagi masyarakat Jakarta yang telah berada di ibukota ini lebih dari 5 tahun mungkin akan merasakan kemacetan yang kian menggila dari masa ke masa. Bukan hanya mereka yang tinggal di Jakarta tapi mereka yang tinggal di luar Jakarta namun mencari penghidupan di Jakarta juga mengalami hal yang serupa. Busway yang digadang-gadang akan bisa mengurangi kemacetan ternyata hinggasekarang belum semua jalur dapat beroperasi yang mengakibatkan halte-halte yang telah dibangun dengan biaya yang tidak sedikit menjadi terbengkelai/rusak (kaca-kaca pecah, lempengan besi ada yang hilang) karena tidak dipakai. Sangat disayangkan lebih baik rusak karena dipakai dari pada rusak karena dianggurin.
Jika tidak ada revolusi dalam mengatasi kemacetan ini, bisa dipastikan kemacetan ini akan kian parah di tahun-tahun mendatang. Sebab penambahan jumlah kendaraan yang ada tidak didukung dengan prasana jalan yang memadai. Dengan kata lain umur efektif manusia Jakarta semakin berkurang karena lebih banyak waktu yang habis di jalan.
Kenapa umur efektif manusia saya katakan semakin berkurang? Karena setiap kita mau beraktifitas dan kita harus keluar rumah sudah pasti akan terkena kemacetan. Mungkin dulu kita menyeberang jalan bisa langsung. Tapi sekarang kita harus lurus dulu kemudian baru memutar dan terkadang memutarnya cukup jauh. Lima tahun yang lalu perjalanan dari rumah ke tempat kerja (Bekasi-Jakarta) yang dulu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam melalui jalan Kalimalang sekarang jangan harap bisa dicapai. Paling tidak perlu waktu 1,5 jam untuk mencapai lokasi. Bagi yang punya kendaraan roda empat juga mengalami hal yang serupa. Okelah mungkin bisa masuk tol. Namun, sekarang mungkin sudah tak senyaman dulu. Klo dulu naik tol mungkin benar-benar terasa lancar. Tapi sekarang sungguh ironi. Sebagai contoh disamping jalan tol terdapat rambu yang maksudnya minimal kecepatan 60 km, maksimal kecepatan 80 km. Tapi kenyataannya di jalan tol tersebut seringnya merayap.
Itu mungkin kemacetan yang sudah biasa terjadi setiap hari. Untuk moment-moment tertentu seperti banjir, ada kecelakaan beruntun atau karena semua orang mengejar tujuan yang sama dan melewati jalan yang sama (baca tulisan saya : Antusiasme malam pertama Ramadhan), kemacetannya bisa sangat parah.
Waktu yang diperlukan untuk mencapai tempat kerja setiap hari adalah kurang lebih 1,5 jam sedangkan waktu untuk pulang dari kantor kurang lebih 2 jam, bahkan kalau lagi hujan bisa mencapai 2,5 jam. Yah 4 jam waktu habis di jalan. 4 jam berarti 1/6 waktu hidup kita dipakai untuk perjalanan untuk pulang pergi kerja. Jika ditinjau dari umur manusia maka umur efektif kita telah berkurang 1/6 nya. Coba bayangkan dengan menggunakan waktu 4 jam mungkin kita bisa berbuat banyak untuk bercengkerama dengan anak/istri kita.
Okelah itu jika kita menghitung dari sisi pribadi. Coba sekarang kita menghitung dari sisi unit tempat kita bekerja. Coba kita mencoba renungkan jika kita harus keluar kantor (tentu saja untuk urusan kantor). Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk menuju lokasi tersebut. Apalagi kalau sudah lepas dari three in one. Semua kendaraan keluar. Dari tempat saya bekerja di jalan Gatot Subroto ke Lapangan Banteng kalau lagi lancar paling tidak mencapai 1 jam tapi kalau lagi macet bisa mencapai 2 jam yang jaraknya paling hanya 7 km. Dari sisi unit tempat kita bekerja jelas itu suatu kerugian. Karena kita bisa mengerjakan pekejaan lain di kantor jika tidak terjadi kemacetan.
Mengambil lokasi tempat tinggal jauh dari tempat kerja adalah pilihan kita sendiri (termasuk saya). Dengan melihat berbagai faktor mungkin ada yang memilih lebih baik berangkat lebih pagi sehingga waktu perjalanan paling 1 jam. Namun konsekuensinya kita berangkat sebelum anak-anak bangun. Orang bilang “berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari tenggelam”.Dan bagi saya ini cukup berat nanti anak-anak tidak kenal siapa bapaknya? Bagi yang lain mungkin hal ini tidak masalah/ sudah biasa. Karena masing-masing punya alasan tersendiri. Tapi apapun alasannya dengan adanya kemacetan ini maka banyak waktu kita yang terbuang sia-sia. Semoga suatu saat nanti terdapat solusi yang jitu untuk mengatasi kemacetan di ibukota negara ini.
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca oleh mereka yang berkuasa untuk mengatasi dan mempunyai regulasi untuk mengatur crowded traffic jam in Jakarta. Amien.





