Mengasah Simpati

Jum’at sore saya pulang dari kantor naik jemputan, kebetulan sore itu lumayan macet. Masih beruntung jalur jemputan kami tidak dialihkan, jadi alhmdulillah tidak menambah waktu hanya sekedar  untuk memutar balik. 

Lebih dari itu ternyata ada Bapak Presiden kita yang mau melintas di jalan tol yang akan kami lewati.  Sekarang  tiba gilirannya masuk tol, alhamdulillah bus kami bisa masuk pintu tol walaupun agak tersendat dan ternyata pintu tol itu yang akan dipakai oleh Bapak Presiden untuk masuk jalan tol. Sementara pintu tol yang lain sudah dilarang  untuk dilewati. Padahal, biasanya kami lewat pintu tol yang lebih depan, tapi nggak tahu kenapa sore itu kami lewat pintu tol sebelumnya. Karena sedikit kendaraan yang menggunakan jalan tol seiring dengan masuknya mobil presiden ke jalan tol, perjalanan kami pun ikut lancar. Subhanalloh, begitu banyak kenikmatan yang Alloh berikan pada kami hari itu.

Namun di balik itu…. Apakah kita sempat berpikir bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung karena perjalanan mereka dihentikan untuk memberi jalan  pada RI 1 ini? Padahal semuanya pingin pulang cepat, pingin kumpul dengan anak istri untuk berbuka bersama . Bagi mereka yang mengalami reaksinya bisa beragam. Ada yang marah-marah sambil ngumpat dengan sumpah-serapahnya, ada yang menganggapnya biasa “Yah… biasalah pejabat mau lewat”. Ada yang bersabar karena mereka sadar bahwa setiap kejadian yang tidak mengenakan adalah ujian dari Alloh..

Klo kita mengalami kejadian seperti itu apakah kita bisa sabar? Memang klo kita di posisi bukan yang mengalami kejadian sangat mudah mengatakan “sabar ya…” pada rekan kita yang tertimpa musibah. Coba bayangkan klo kita di posisi mereka tentu tidak mudah untuk bersabar. Jadi seyogyanya agar kita lebih peka dalam merasakan penderitaan orang lain…. Agar kita lebih bersimpati  pada orang yang tertimpa musibah sekecil apapun, janganlah kita hanya memakai kacamata diri sendiri tapi coba pakai kacamata orang lain. Tentunya berbeda antara orang yang mengatakan “sabar ya” yang cuma di bibir saja dengan orang yang mengatakan hal serupa tapi dengan mencoba merasakan apa yang menimpa mereka. Insya Alloh klo kita berbuat demikian, rasa simpati kita kepada sesama akan lebih dalam yang akan mendorong kita untuk berbuat sesuatu untuk meringankan musibah mereka, atau paling nggak kita berdoa dengan tulus agar mereka diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi musibah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s