Bertahanlah ketika “petir” datang!

Bertahanlah ketika “petir” datang!


petir

Ada "petir" berarti ada kehidupan.

Hidup ini terkadang memang harus bergemuruh. Namun, sebagian manusia justru takut dengan gemuruh. Yang terpenting adalah gemuruh tersebut tidak berlebihan sehingga tidak mendatangkan gempa berat atau badai. Bukankah dengan adanya gemuruh berarti ada tanda-tanda kehidupan? Manusia yang takut gemuruh adalah manusia yang lebih senang dengan kenyamanan diri.

Dalam kehidupan da’awi pun sama, apalagi bingkai amal da’awi adalah jama’ah yang dihuni manusia. Cukup wajar bila terkadang ada “gempa ringan”, bahkan terkadang kalau manusianya tidak siap denga ngempa tersebut dapat menjadi gempa medium dan memakan korban. Yang penting, seluruh masyarakat dakwah itu selalu dibekali dengan training-training menghadapi gempa, termasuk juga menyelematkan diri ketika gempa datang.

Ketika gempa datang, berbagai jeritan, letupan emosi, teriakan dan suasana psikis yang tak menentu pasti terjadi. Namanya juga manusia, tentu fitrah kemanusiaannya akan muncul tanpa disadari. Bisa jadi letupan, ocehan dan makian korban akan semakin kencang, bahkan cenderung tak terkendali apabila penanganannya tidak tepat, apalagi kalau tidak ditangani. Selesailah semua urusan, dan akhirnya selamat datang pihak ketiga! Kami sambut kalian dengan tangan terbuka.

Ketika petir menyambar-nyambar di atas langit dengan suara menggelegar, anak katak itu sangat ketakutan. Ia terus memegang erat perut ibunya. Ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Muka anak katak itu bertambah pucat ketika dilihatnya awan semakin tebal, langit semakin hitam dan suara petir itu semakin kencang. Sedangkan kilatannya mulaidekat dengan bumi. Namun dengan tenang ibunya menghibur sambil berkata: ” Tenanglah anakku, sebentar lagi semuanya akan berakhir”. Tiba-tiba dari ata langit air turun dengan derasnya, dan perlahan-lahan anak katak itu melepaskan pegangannya dari Sang Ibu. Kini, anak katak itu bersorak gembira di tengah derasnya hujan dambil bernyanyi kryok….., kryok…, kryok.” Dalam bahasa manusia, mungkin arti dari nyanyian anak katak itu adalah: “Badai pasti berlalu“.

Saudaraku…!

Semoga, semua letupan-letupan yang keluar dari mulut, tulisan dan bahasa batin kita ketika datangnya gempa adalah bagian dari letupan sesaat yang konstruktif,dan hati kita tetap terjaga dalam bingkainya.

Saudaraku…!

Semoga letupan, ketakutan dan was-was yang kita alami adalah sebagaimana yang dialami anak katak di atas, pertanda akan datangnya kesenangan, kemenangan dan keceriaan. Amin..!

—–

Semoga artikel di atas bisa memberi semangat kita untuk terus berkecimpung di dunia dakwah. Walaupun banyak cibiran baik di kalangan external bahkan kadang dari internal kita sendiri dakwah harus terus berjalan. Allohu Akbar!

)I( )I( )I(

Diambil dari majalah Tatsqif Edisi 30 pada bagian Iftitah.

One response to “Bertahanlah ketika “petir” datang!

  1. Betul akh! Kalo bukan libtighâi mardhatillâh hati udah hancur ber-keping2 nih diterpa badai…
    Capeeek bgt! Smoga Allâh tetap menjaga keikhlasan kita. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s