Nasehat untukku

Nasehat Untukku

buah

Buah yang baik, kulitnya menarik dalamnya tidak kalah cantik

Malu, malu sekali bilaku ku ingat tutur kataku. Sepertinya kata-kataku itu menjadi dilema. Sampai terbesit dalam hatiku,.  “Kenapa kata-kata itu terucap”. Padahal aku sering melanggarnya. Aku mengatakan kata-kata itu tidak hanya pada satu orang, tetapi kata-kata itu tersebar laksana hujan yang turun di setiap tempat yang dilewati.

Aku sering bilang ke orang laksanakan sholat tepat waktu, tapi nyatanya aku sering terlambat ke tempat sholat berjama’ah. Aku lebih mementingkan kesibukanku daripada bersegera memenuhi panggilan Tuhanku.

Aku sering bilang ke orang, tahajud itu akan menenangkan jiwa, membuat pikiran jernih, waktu itulah waktu dimana malaikat turun dan melihat adakah hamba Alloh yang sedang meminta. Adakah hamba Alloh yang punya hajat. Dan ibarat saluran telepon, waktu tersebut jarang pengguna telepon lagi sepi, sehingga komunikasi dengan Alloh akan terhubung dengan lancar.. Tapi.. nyatanya aku lebih sering bangun hanya untuk buang air kecil saja, kemudian ku rapatkan kembali selimut halusku karena hawa dingin mengusik diriku tuk melanjutkan mimpi indahku.

Aku sering bilang ke orang, jadilah orang yang disiplin dan menghargai waktu, namun ketika ada panggilan untuk rapat pertemuan dengan teman-teman, aku sering datang terlambat padahal aku tahu itu adalah rapat penting, rapat untuk ummat. Malah tragisnya kubuat alasan untuk tidak menghadiri karena ada ini dan itu. Padahal Alloh SWT sering bersumpah dengan waktu. Wal Ashr (demi waktu Asar), Wadh dhuhaa(demi waktu dhuha), Wallail (demi waktu malam) yang menunjukkan bahwa pentingnya waktu.

Aku sering bilang ke orang, hati-hati dengan pandanganmu, karena pandangan adalah termasuk salah satu dari panah-panah iblis. Kalau kamu tidak bisa menjaga pandanganmu, maka kamu akan menyesal dan merana. “Berawal dari pandangan selanjutnya terasa akibatnya”. Tapi.. aku masih tetep aja beralasan ketika kesempatan itu datang. “gapapa kok, insya Alloh aku kuat”kataku dalam hati. “Akh lihat bentar doang  kok, kagak ada pengaruhnya”. Padahal sesungguhnya itu sangat berpengaruh terhadap ruhiyahku. Bukankah Alloh SWT telah berfirman dalam Surat AnNur ayat 30 dan 31:

Artinya :

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”AnNur : 31

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” AnNur : 31

Pada ayat tersebut Alloh SWT menyuruh untuk menundukkan pandangan tidak hanya untuk mu’min laki-laki, tapi juga kepada mu’min perempuan

Ya Alloh kuteringat firmanMu dalam surat  AshShoff ayat 2 dan 3 :

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu limataquuluna maalaa ta’maluun. Kaburo maktan ‘indallohi antaquulu maalaa ta’maluun.”

Artinya :

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Pada masa sahabat sendiri, mereka benar-benar melaksanakan apa yang mereka ketahui.. Bahkan dalam memahami AlQuran mereka tidak akan beranjak menuju ayat yang lain jika mereka belum benar-benar paham dan bisa mengamalkan.

Aku dari kecil diajarkan kebaikan, diajarkan berbuat baik sehingga banyak hal-hal baik yang aku ketahui. Tidak cukup itu saja hal-hal baik itu juga kusampaikan kepada yang lain padahal aku belum mengamalkannya. “Mengapa aku berani menasehati orang lain, sedang aku sendiri belum belum melaksanakan?” Sungguh kalau aku berperilaku terus menerus seperti itu,  kata-kataku menjadi  “ompong”

Ku teringat bagian tausiyah Ustd Rahmat Abudullah Alm dalam artikel dengan tema Kematian Hati yang cukup menusuk sanubariku dalam-dalam. Beliau mengatakan :

“Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana, lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.
Dimana kau letakkan dirimu?”

Astaghfirullohal adziim. Ya Alloh, Ampuni hamba.. Termasuk golongan manakah aku ini.. Apakah aku hanya bisa ngomong doang tanpa amal yang berarti..? Aku berlindung padaMu Ya Robb atas hal tersebut. Selalu bimbinglah langkah hamba Ya Robb. Sesungguhnya hamba ingin tetap berada di jalanMu walaupun penuh onak dan duri.

)I(    )I(    )I(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s