Kerinduan Seorang Ayah

Kerinduan Seorang Ayah



Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, tiba-tiba terdengar suara yang dinanti kami “Malam ini saya kira itu saja yang dapat saya berikan dan sampai jumpa minggu depan”. Yah…. itu adalah suara dosen yang telah selesai memberikan kuliah malam ini dan aku adalah salah satu mahasiswanya.

Namanya juga kuliah malam kebanyakan mahasiswanya adalah sudah bekerja yang waktu dan pikiran sudah tercurah untuk pekerjaan. Apabila sudah menjelang jam 9 malam maka mata seolah-olah ada yang nggedandul(bergelayut), sehingga berat untuk membuka mata kecuali dengan kemauan yang kuat. Seolah-olah sudah satu paket mulutpun tanpa diperintah mengambil oksigen banyak-banyak dengan cara membuka mulut lebar-lebar. Kalau sudah begitu konsentrasi tinggal 50 persen saja sudah untung.

Perjuangan (untuk tidak ngantuk) pun lebih berat lagi ketika kami diajar oleh dosen yang kurang mengusai kelas dan tidak mempunyai sense of humor serta monoton yang asyik mengajar tanpa peduli mahasiswanya memperhatikan atau tidak karena (katanya) proses belajar mengajar yang baik itu harus dua arah agar proses pembelajaran lebih efektif. Tapi bagaimanapun kondisinya mahasiswa harus beradaptasi dengan cara pengajaran dosennya karena mahasiswa sudah seharusnya lebih “dwasa” dalam belajar

Motorku pun melaju menyusuri sungai kali malang menuju tempat mendapat “kedamaian hati” yaitu rumahku yang berada di belahan timur kota Bekasi . Kusebut kedamaian hati karena bertemu dengan anak dan istri bisa jadi obatletih dan lelah setelah seharian menunaikan amanah di tempat kerja dilanjutkan dengan belajar di kampus. Kulihat sekelilingku, ternyata masih banyak kendaraan roda dua dan beberapa roda empat yang masih lalu lalang. Seolah seperti perlombaan semua kendaraan melaju dengan kecepatan relatif tinggi. Jangan-jangan mereka juga sama ingin segera pulang ke rumah seperti aku?

Dalam benakku sudah terbayang wajah istriku yang cantik dan dua anakku yang lucu-lucu. Jarak ke rumah pun semakin dekat tinggal beberapa meter lagi, dan bayangan itu pun semakin tajam. Kubuka gerbang rumah setelah itu kubuka pintu rumah. Dari luar terllihat lampu ruang tamu masih menyala, aku yakin anak-anakku sedang bermain dengan bundanya. Aku pun sudah menyiapkan kata-kata sapaan manis untuk anak dan istriku. Wajahku pun sudah memancarkan senyum bahagia.

Kupegang gagang pintu kubuka pelan-pelan dan (toeng toeng toeng). Sepi… Senyap… Hening… Setelah aku memasukkan motor dan mengunci pintu kembali, kucoba melihat ke kamar tidur dan ternyata anak dan istriku sudah tertidur pulas. Kulihat wajah mereka satu persatu.. tenang… damai… dan cukup menenangkan hatiku. Di lubuk hati sana tergores perasaan kecewa bukan karena mereka telah tertidur namun karena aku belum sempat bermain dan bercengkerama sebelum mereka tidur. Namun, aku tidak bisa menuntut agar anak-anak dan istriku jangan tidur dulu sebelum aku pulang. Aku yakin istriku juga cape setelah siang beraktivitas. Alhamdulillah istriku bisa pulang lebih cepat dariku sehingga bisa bermain dulu dengan anak dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam jiwa anak yang sedikit banyak bisa mengobati kerinduan anak akan kasih sayang orang tua yang bekerja seharian.

Dan aku sendiri yang membuat pilihan melanjutkan kuliah yang konsekuensinya sering pulang ketika waktu tidur tiba. Aku pun tetap berbesar hati, ini adalah perjuangan dan kuyakin bukan Cuma diriku yang merasakan seperti ini, para bapak yang lain yang sedang menjalani amanah seperti aku pasti merasakan hal yang sama.

Sabtu dan Minggu adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu untuk bisa bercengkerama dengan keluarga. Kegersanganku selama 5 hari bekerja akan ku-charge di hari itu. Dua hari itu sangatlah berarti bagiku. Ku akan berusaha agar lebih dekat dengan anak-anakku agar dia tak kehilangan sosok ayah karena sebenarnya anakku yang pertama ( 4 tahun) tiap malam dia selalu bertanya “ kok ayah ga pulang-pulang ya nda (bunda)?” karena ingin bermain atau bercerita denganku.

Inilah mungkin kerinduan dari seorang ayah kepada anak dan istrinya dan peristiwa itu pun terulang terus-menerus. Kuberharap semoga kuliahku bisa cepet selesai sehingga pulang kerja masih bisa bercengkerama dengan orang-orang yang tercinta.

Anak dan istriku sayang….sesungguhnya ku ingin sekali punya waktu lebih untuk bercengkerama dengan kalian
Anak dan istriku sayang….hatiku sebenarnya menjerit karena waktu untuk kalian menjadi berkurang….
Anak dan istriku sayang…. percayalah….aku ini tengah berjuang mencari ilmu tuk bekal kehidupan mendatang..
Anak dan istriku sayang… doakan aku agar lancar dalam mengemban ujian kehidupan…
Robbana hablanaa min azawajinaa wadzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alna lilmuttaqiinaa imamaa

)I(    )I(    )I(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s