Menyongsong Indonesia Bersih (sebuah harapan)

Menyongsong Indonesia Bersih (sebuah harapan)

Maraknya kasus kejahatan akhir-akhir ini, sungguh membuat hati kita miris. Setiap hari kita disuguhi oleh media dengan hal-hal yang berkaitan dengan tindak kriminal seolah-olah di Indonesia ini orang baik adalah makhluk yang cukup langka.Ya… mungkin jenis kejahatan ini memang kejahatan yang sudah membudaya di masa yang lalu (orde baru) dan ternyata di era setelah reformasi pun masih banyak dijumpai. Apa itu?… perilaku korup yang dilakukan oleh “oknum pejabat” kita ternyata masih ada dan kita jumpai pada masa sekarang ini. Saya sebut oknum karena saya yakin masih banyak pejabat/pegawai yang bersih namun jarang diekspose oleh media. Terkadang media juga berlebihan dalam mengekspose berita sehingga yang nampak di negara kita adalah kejahatan atau kebejatan moral.

Sungguh berita mengenai kasus yang “menghinakan” ini seakan tak henti-hentinya menyerang Republik ini. Dari mulai kasus Century yang sangat menghebohkan sehingga DPR pun membentuk Pansus Century untuk menanggapi kasus serius ini. Kemudian muncul statement dari Susno Duadji yang kemudian menyeret beberapa pejabat negara baik di institusi Kepolisian, Kejaksaan dan tentunya di institusi penghimpun dana yaitu Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu. Dan setelah itu bermunculan kasus lain. Dari semua kasus “judulnya” sama yaitu corruption.

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti ceramah ba’da Dhuhur di Masjid Shalahuddin Kantor Pusat Ditjen Pajak yang disampaikan oleh penasehat KPK, Abdullah Hehamahua, dalam rangkain acara Sepekan dalam Langkah menuju DJP Cerah, menjelaskan bahwa motif korupsi itu ada dua : pertama adalah karena kebutuhan dan yang kedua adalah karena keserakahan. Untuk motif yang pertama kata beliau hampir dilakukan oleh sebagian besar PNS di negeri ini dan efek dari motif yang pertama ini tidak terlalu parah. Mereka melakukan ini karena keterbatasan penghasilan. Gaji kecil sementara kebutuhan dari hari ke hari kian berat.

Sedangkan motif yang kedua yaitu keserakahan. Korupsi inilah yang biasanya dilakukan oleh para pejabat yang serakah, dan punya posisi yang “strategis” dalam jabatannya. Mereka sungguh orang gila harta. Padahal mereka dalam sehari tetap makan 3 kali, kalaupun berkali-kali paling sampai sepenuh perutnya, apa dengan uang melimpah ia jadi kuat langsung sekali makan 5 piring?

Trus misal dibelikan mobil, apa iya mobilnya enak dinaikkin, trus kalau dibelikan rumah mewah, apa iya enak nempatinnya? Kalau begitu lantas apa yang mereka banggakan. Sebenarnya ga ada, yang ada hanya keserakahan yang menutupi hati nurani. Saya rasa ga ada orang yang bangga mengatakan bahwa hartanya hasil korupsi, dan saya yakin klo tidak ada yang korupsi ngaku, justru sebaliknya mereka akan menutupi kejahatan yang telah dilakukan sehingga hidup mereka pun akan resah karena selalu diliputi ketakutan/ waswas kalau ia sampai tertangkap atau ketahuan bahwa hartanya adalah hasil korupsi.

Apapun motifnya jangan sampai kita melakukan korupsi, baik itu korupsi kecil-kecilan sampai korupsi tingkat tinggi. Sudah selayaknya para teman-teman Pegawai Negeri Sipil melayani masyarakat tanpa meminta imbalan apapun, karena apa? Karena ia sudah digaji dengan uang rakyat sehingga wajarlah rakyat mendapat pelayanan yang baik. Apalagi teman-teman yang sudah mendapat remunerasi, ini jauh lebih tidak pantas lagi.

Segala jenis kejahatan bisa terjadi karena adanya dua faktor yaitu faktor niat dan faktor kesempatan. Dan dua faktor ini harus dipenuhi. Jika tidak maka tidak mungkin kejatan akan terjadi. Dan menurut saya, faktor niat inilah yang paling berbahaya (na’udzubillahimindzalik). Jangan sampai kita punya niat jahat. Jika kita sudah niat maka kesempatan pun bisa diciptakan.

Tapi jangan lupa jika punya banyak kesempatan, niat jahat pun kadang melintas dalam benak kita. Ini dalam hal apapun. Hanya satu yang bisa mengontrol itu semua yaitu iman kita. apakah kuat atau tidak iman kita menghadapi berbagai bentuk godaan tersebut. Dan janganlah kita sampai mendapat la’nat dari Alloh ta’aala sebagaimana dalam sebuah hadits dari Rosululloh SAW yang berbunyi :

“Alloh Ta’aala mela’nat orang yang menyuap dan yang disuap” (HR Ibnu Majah).

Wahai para abdi negara yang tengah merencanakan korupsi hentikanlah dan carilah harta yang berkah.

Wahai para abdi negara yang sudah korupsi bertaubatlah, sungguh kasihan anak, istri dan saudaramu yang makan harta haram. Tegakah kau racuni mereka dengan hartamu itu?

Wahai masyarakat Indonesia berhentilah untuk menyuap para abdi negara. Jika kamu melakukannya kamu juga tidak jauh beda dengan mereka yang menerima suap yang akan dilaknat oleh Alloh SWT.

Kita berdoa pada Alloh SWT agar terhindar dari hal-hal yang demikian dan apabila kita punya kesempatan pun semoga Alloh menguatkan iman kita agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Semoga Alloh SWT menjadikan terbongkarnya beberapa kasus korupsi di negeri ini untuk menyongsong Indonesia bersih sehingga kita menjadi bangsa yang bermartabat.

Jayalah negeriku, Jayalah Indonesiaku.Insya Alloh…

)I( )I( )I(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s