Berkaca pada “si cacat”

Berkaca pada “si cacat”

Beberapa hari yang lalu aku sholat magrib di suatu masjid di jalan kalimalang. Adzan sudah berkumandang lama sekitar 25 menit yang lalu ketika aku masih mengendarai motor, namun aku tidak langsung mengambil air wudhu karena kebetulan aku sedang shoum jadi aku berbuka terlebih dahulu.  Aku duduk di teras masjid dan ketika sedang menyantap hidangan buka, aku melihat ada orang dengan perawakan yang tidak sempurna berjalan menggunakan tangan dan kedua kakinya melintas di depanku. Aku melihatnya sekilas dan merasa iba dengannya.

Aku pun tak berpikir lebih jauh dan kuteruskan menyantap hidangan buka yang telah kusiapkan sebelumnya. Kemudian aku ambil air wudhu bersiap melaksanakan sholat magrib berjamaah bersama yang lain.  Sholat jamaah yang pertama telah selesai dilaksanakan.  Ketika akan mulai sholat aku kaget bukan kepalang, ternyata “si cacat” yang tadi melintas di depanku ada di sebelah kanan dan siap melaksanakan sholat. Setelah sholat, kami berdzikir. Selanjutnya  ia pun bergeser ke depan dan siap melaksanakan sholat ba’diyah.

Karena posisiku di belakangnya aku bisa melihat ia sholat ba’diyah. Si cacat ini dengan segala keterbatasannya melaksanakan sholat dengan sebaik-baiknya. Posisi berdirinya ketika sholat sama dengan jongkoknya orang normal. Cacatnya adalah kedua kaki tidak tumbuh sempurna. Kakinya sangat kecil tidak bisa menopang tubuhnya yang besar. Ketika ruku ia memiringkan tubuhnya ke depan. Dan ketika sujud, dengan kedua tangannya ia berusaha mengubah posisinya ke posisi sujud kemudian mengubah posisi lagi untuk berdiri pada rokaat kedua. Semunya dilakukan dengan bersusah payah.

Subhanalloh kita  yang telah  diberi Alloh tubuh yang sempurna, apakah masih ada rasa enggan untuk mengerjakan sholat. Atau kita enggan juga untuk segera sholat di awal waktu? Lihatlah si cacat ini, meskipun cacat dia tetap bersyukur karena Alloh telah memberinya berbagai kenikmatan yang lain diantaranya adalah kesehatan. Dengan segala keterbatasannya ia berusaha menjalankan ketaatan pada Sang Kholik Alloh SWT.

Saudaraku mari kita istighfar seraya memohon ampun karena begitu banyak nikmat yang telah Alloh berikan namun jarang sekali kita mensyukurinya.

Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita agar lebih taat kepada Rabb kita..

Wallohu A’lam Bishshowab.

3 responses to “Berkaca pada “si cacat”

  1. tulisan yg mencerahkan jiwa….

  2. alhamdulillah akhii, malu-dan sangat malu jika kita masih bermalas-malasan untuk beramal dan beribadah. Yuk tambah power ruhiyah kita!

  3. kisah yg penuh makna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s